sekolahjambi.com

Loading

cerpen singkat tentang sekolah

cerpen singkat tentang sekolah

Cerpen Singkat Tentang Sekolah: Potret Kehidupan dalam Ruang Kelas

1. Aroma Kapur dan Mimpi:

Pagi itu, aroma kapur tulis memenuhi udara kelas VII-B, bercampur dengan bau debu dari buku-buku usang. Di bangku paling belakang, duduklah Rina, seorang gadis pemalu dengan rambut dikepang dua. Rina bukanlah murid yang menonjol dalam pelajaran. Angka-angkanya seringkali mengecewakan, dan rumus-rumus fisika membuatnya pusing. Namun, di balik ketidakmampuan akademiknya, tersimpan sebuah mimpi besar: menjadi seorang penulis.

Saat guru matematika menjelaskan tentang persamaan linear, Rina justru sibuk mencoret-coret di buku catatannya. Bukan angka atau simbol matematika, melainkan barisan kata yang membentuk sebuah puisi tentang awan dan burung camar. Puisi itu adalah pelariannya dari kenyataan, dari tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik.

Tiba-tiba, suara keras membuyarkan lamunannya. “Rina! Apa yang kamu lakukan di sana? Kenapa tidak memperhatikan pelajaran?” Tegur Pak Budi, guru matematika yang terkenal disiplin.

Rina tersentak kaget. Wajahnya memerah karena malu. Ia menyembunyikan buku catatannya di bawah meja. “Ma-maaf, Pak,” jawabnya gugup.

Pak Budi menghela napas. “Rina, saya tahu kamu punya potensi. Tapi, kamu harus fokus pada pelajaran. Jangan biarkan mimpi-mimpimu mengganggu belajarmu.”

Rina hanya mengangguk pelan. Kata-kata Pak Budi membuatnya merasa bersalah. Ia tahu, ia harus berusaha lebih keras. Namun, di sisi lain, ia juga tidak ingin mengubur mimpinya begitu saja.

2. Persahabatan di Kantin Sekolah:

Jam istirahat adalah waktu yang paling dinantikan oleh semua murid. Suara riuh rendah memenuhi kantin sekolah. Di antara kerumunan murid yang berebut membeli makanan, terlihat tiga sahabat karib: Andi, Budi, dan Citra.

Andi adalah anak yang paling populer di sekolah. Ia tampan, pandai bermain basket, dan selalu menjadi pusat perhatian. Budi adalah anak yang cerdas dan kutu buku. Ia selalu mendapatkan nilai terbaik di kelas. Sedangkan Citra adalah anak yang kreatif dan berbakat dalam seni. Ia pandai menggambar dan membuat kerajinan tangan.

Meskipun memiliki kepribadian dan minat yang berbeda, mereka bertiga saling melengkapi. Andi selalu melindungi teman-temannya dari gangguan anak-anak nakal. Budi selalu membantu mereka dalam mengerjakan tugas sekolah. Dan Citra selalu memberikan semangat dan inspirasi.

Suatu hari, Andi terlibat perkelahian dengan seorang anak dari kelas lain. Budi dan Citra berusaha melerai, tetapi mereka malah ikut terseret dalam masalah. Akibatnya, mereka bertiga dihukum oleh guru BK.

Meskipun dihukum, mereka tidak saling menyalahkan. Mereka justru semakin solid dan kompak. Mereka belajar bahwa persahabatan sejati tidak hanya ada di saat senang, tetapi juga di saat susah.

3. Lomba Pidato dan Keberanian:

Sekolah mengadakan lomba pidato untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Banyak murid yang antusias mengikuti lomba tersebut. Salah satunya adalah Sarah, seorang gadis yang pemalu dan kurang percaya diri.

Sarah memiliki kemampuan menulis pidato yang baik. Ia mampu merangkai kata-kata indah dan menyentuh hati. Namun, ia selalu merasa gugup dan takut saat berbicara di depan umum.

Meskipun demikian, Sarah tidak menyerah. Ia berlatih pidato setiap hari di depan cermin. Ia berusaha mengatasi rasa gugup dan takutnya. Ia juga meminta bantuan dari guru bahasa Indonesia untuk memberikan masukan dan saran.

Pada hari perlombaan, Sarah merasa sangat tegang. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya berkeringat dingin. Namun, ia berusaha menenangkan diri. Ia mengingat semua latihan dan persiapan yang telah dilakukannya.

Saat namanya dipanggil, Sarah melangkah maju ke atas panggung. Ia menarik napas dalam-dalam dan mulai berpidato. Awalnya, suaranya sedikit bergetar. Namun, semakin lama, suaranya semakin lantang dan percaya diri.

Pidato Sarah sangat menyentuh hati para juri dan penonton. Ia berhasil menyampaikan pesan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Ia juga berhasil membangkitkan semangat nasionalisme.

Akhirnya, Sarah berhasil meraih juara pertama dalam lomba pidato tersebut. Ia sangat bahagia dan bangga pada dirinya sendiri. Ia membuktikan bahwa dengan kerja keras dan keberanian, ia mampu mengatasi segala ketakutan dan meraih impiannya.

4. Guru Inspiratif dan Perubahan:

Pak Anton, seorang guru sejarah yang baru ditugaskan di sekolah tersebut, memiliki cara mengajar yang unik dan menarik. Ia tidak hanya menjelaskan tentang tanggal dan peristiwa sejarah, tetapi juga mengajak murid-muridnya untuk berpikir kritis dan menganalisis dampak sejarah terhadap kehidupan masa kini.

Awalnya, banyak murid yang merasa aneh dengan cara mengajar Pak Anton. Mereka terbiasa dengan metode pembelajaran yang konvensional dan membosankan. Namun, lama kelamaan, mereka mulai menyukai cara mengajar Pak Anton.

Pak Anton selalu memberikan motivasi dan inspirasi kepada murid-muridnya. Ia mendorong mereka untuk mengembangkan potensi diri dan meraih cita-cita. Ia juga mengajarkan mereka tentang pentingnya nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan.

Salah satu murid Pak Anton, bernama Dimas, adalah seorang anak yang nakal dan sering membuat masalah di sekolah. Namun, Pak Anton tidak pernah menyerah untuk membimbing Dimas. Ia selalu memberikan perhatian dan dukungan kepada Dimas.

Berkat bimbingan Pak Anton, Dimas mulai berubah. Ia menjadi lebih rajin belajar dan lebih bertanggung jawab. Ia juga mulai menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

Pada akhirnya, Dimas berhasil lulus dengan nilai yang baik. Ia diterima di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Ia berterima kasih kepada Pak Anton atas semua bimbingan dan inspirasi yang telah diberikan kepadanya.

5. Kenangan di Akhir Tahun:

Hari terakhir sekolah selalu menjadi momen yang mengharukan. Semua murid berkumpul di lapangan sekolah untuk mengikuti acara perpisahan. Mereka saling berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan.

Tiga tahun telah berlalu sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Banyak kenangan manis dan pahit yang telah mereka lalui bersama. Mereka telah belajar, bermain, dan tumbuh bersama.

Saat acara perpisahan berlangsung, seorang murid bernama Maya naik ke atas panggung. Ia membacakan sebuah puisi tentang kenangan di sekolah. Puisi itu sangat menyentuh hati semua orang.

Setelah itu, semua murid bernyanyi bersama. Mereka menyanyikan lagu-lagu perpisahan yang membuat suasana semakin haru. Banyak murid yang meneteskan air mata.

Meskipun mereka harus berpisah, mereka berjanji untuk tetap menjaga tali persahabatan. Mereka akan selalu mengingat kenangan indah yang telah mereka lalui bersama di sekolah ini. Sekolah bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga tempat untuk menemukan sahabat sejati dan membentuk karakter diri. Kenangan di sekolah akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup mereka.